AI Update

Mantan Petinggi Spotify Rilis Aplikasi Musik yang Sengaja Skip AI

Startup eks-Spotify A Vinyl Bar in Shibuya kumpulkan $5,5 juta buat bikin kumpulan aplikasi musik interaktif — sengaja skip generator lagu berbasis AI.

Diterbitkan oleh 2ndBrAIn15 September 20264 min read
Share:XFacebookWhatsApp
Startup Eks-Spotify Bikin Aplikasi Musik Anti-AI

Gw sering dengar keluhan yang sama dari musisi: generative AI bikin musik makin berlimpah, tapi makin gak personal. Startup baru bikinan mantan bos inovasi Spotify justru taruhan ke arah sebaliknya — bikin orang main-main sama musik, bukan minta AI bikinin dari nol.

Apa yang baru

  • Pendanaan $5,5 juta: startup A Vinyl Bar in Shibuya baru saja menutup putaran pre-seed dari Mantis VC, SV Angel, BoxGroup, dan sejumlah investor lain, dengan mantan chief content Spotify Dawn Ostroff bergabung sebagai advisor.
  • Pendirinya eks-Spotify: Máuhan M. Zonoozy, mantan head of innovation Spotify yang keluar tahun 2024, sebelumnya juga membangun startup remix video Bubbl yang diakuisisi Cricket Media.
  • Enam aplikasi kecil sekaligus: rilisannya mencakup Speed Surfer (Chrome extension buat ubah kecepatan dan filter audio), Usersound (bikin username jadi rangkaian nada), Stacks, Drops, Sampler (ubah video YouTube jadi sampler musik), dan bop — app iOS yang hasil mixingnya bisa langsung diekspor ke TikTok atau Instagram.
  • AI sengaja dibatasi: Zonoozy bilang ke TechCrunch dia sadar gak mau AI dijejalin ke setiap bagian produk, meski tetap pakai AI buat infrastruktur dan fitur prompt-based creation yang baru saja ditambahkan.
  • Rencana lanjutan: tahun ini perusahaan mau rilis "musical sandbox mixer", produk yang bikin pengguna bisa eksperimen bikin instrumen sendiri.

Cara kerjanya

Yang paling matang dari semuanya adalah bop. Bayangin papan catur 3×3 tempat tiap kotak diisi instrumen atau efek — kalian tinggal nyalain dan matiin kotak buat nyusun ulang mix dari lagu dasar, atur tempo, tambahin efek satu kali pakai, lalu ekspor hasilnya. Stacks pakai logika grid yang mirip buat stem player, sementara Drops mengubah pantulan kelereng di papan jadi pola nada. Semua app-nya kecil dan berdiri sendiri — dirilis satu-satu kayak "single" dari satu album, bukan satu aplikasi raksasa yang isinya segalanya.

Bacaan berguna, sekali seminggu.

Kabar AI penting, konteksnya, dan satu hal yang bisa langsung kalian praktikkan.

Kenapa ini penting

Kalau kalian creator musik atau content creator yang sering bikin remix pendek buat TikTok dan Instagram, bop dan Stacks itu semacam sandbox eksperimen gratis buat sound design tanpa perlu buka DAW berat. Ekspor langsung ke platform sosial artinya jarak dari iseng mix ke konten jadi lebih pendek.

Tapi arah produk ini juga kontras sama tren yang lagi ramai — model generative musik yang makin dipercaya label rekaman, seperti yang gw bahas soal Suno v6 yang digandeng label rekaman. Zonoozy justru pasang taruhan kalau makin gampang AI bikin lagu, makin langka dan berharga justru selera serta partisipasi manusia — bukan makin gampang tergantikan.

Belum ada tanda-tanda lokalisasi bahasa atau strategi khusus pasar Asia dari perusahaan ini, jadi buat sekarang semua produknya masih murni pengalaman berbahasa Inggris di web dan iOS.

Buat kalian

  • Yang harus peduli: kalian yang produksi konten musik pendek buat TikTok/Reels dan pengen alat eksperimen sound yang beda dari generator AI biasa — coba pantau bop dan Stacks sebagai sandbox tambahan, bukan pengganti tools produksi utama kalian.
  • Yang boleh santai: kalau kerjaan kalian butuh output musik full-length yang siap dipakai buat scoring atau produksi komersial, produk ini belum ke arah situ — masih fokus ke interaksi dan eksperimen singkat.
  • Langkah kecil pertama: coba salah satu app gratis kayak Sampler atau Usersound buat lihat cara mereka menerjemahkan "main-main dengan bunyi" jadi output yang bisa didengar, sebelum menilai apakah workflow-nya cocok masuk ke proses konten kalian.

Taruhan Zonoozy sebenarnya bukan cuma soal musik: makin gampang AI bikin sesuatu yang "cukup bagus", makin berharga justru kemampuan memilih dan mengarahkan rasa — bukan kemampuan menekan tombol generate. Itu prinsip yang sama yang gw latih bareng murid-murid di kelas gw, supaya AI jadi alat bantu selera kalian, bukan pengganti selera itu sendiri.

Sumber primer: laporan TechCrunch berdasarkan wawancara langsung dengan pendiri (techcrunch.com, "A Vinyl Bar in Shibuya is a startup from a former Spotify leader for making music apps").

Lebih paham AI. Lebih siap menggunakannya.

Newsletter mingguan berisi kabar penting, konteks yang jernih, dan praktik yang bisa dicoba.

Belajar build sistem AI yang bekerja buat kalian

Lihat akademi